Senin, 07 September 2015

JOKOWI dari sudut pandang mata kita.


Masyarakat bergejolak melihat tingkah dan sikap "JOKOWI" yang khas dengan senyum, serta blusukannya yang cinta dan pro rakyat "katanya" di waktu kampanyenya, lalu masyarakat mengulang gejolaknya ketiaka BBM di usik agar dinaikkan yang konon katanya untuk perbaikan stabilitas ekonomi di waktu ia terpilih sebagai presiden yang berumur 3 bulan lamanya.

tidak di pungkiri bahwa kepopuleran Jokowi hingga saat ia sebagai gubernur hingga menjabat sebagai pemimpin negeri, pamornya selalu mendapatkan reting pertama, mengapa tidak,? blusukan serta senyuman khas diwajahnya mencerminkan seorang yang sederhana dan masyarakat menganggap sebagai sebuah modal untuk membuat negeri ini lebih baik. tetapi seiring berjalannya waktu, di masa kepemimpinannya optimisme yang "mendukungnya" berbalik arah ingin menurunkannya hanya karena dinaikkannya BBM yang meresahkan warga, dari masyarakat yang hidup di pinggiran sungi, pinggiran jalan dan tentunya pinggiran kampus alias kos-kosan. 

menjadi miris dengan melihat fenomenal banyaknya ketimpangan yang ganjal bagi masyarakat negeri ini yang mulai berbalik arah mempertanyakan kebijakan serta arah negeri ini yang memiliki sejuta sumber daya alam yang melimpah ruah, dengan berbagai realitas negeri yang membuat mayoritas masyarakat mulai meragukan kinerja "sang pemimpin" yang belum setahun menjabat. lalu dengan berbagai macam ocehan, bahkan kritikan mulai dari bawahannya sendiri, mahasiswa berdemonstrasi hingga masyarakat yang hanya mampu mengoceh dirumahnya sendiri lantaran kebutuhan hidup yang semakin melunjak. 

kini masyarakat yang hanya mampu berteriak di rumahnya sendiri hanya mampu mengelus dada dan memohon kepada tuhannya agar hidup negerinya lebih baik di tangan yang ia percayakan.lalu mahasiswa dengan sombong akan kekuatan fisik dan mentalnya menyuarakan aspirasinya dengan memborbardir hampir seluruh kartor DPRD prov dan kota di jambanginya, lalu ketika ke inginannya tidak di penuhi maka ia pun lalu lalang di jalanan, merusak fasilitas dan melakukan berbagai kriminalitas yang disebutnya sebagai "upaya". 

dengan melihat berbagai macam problematika, semua kalangan hadir dengan beragam cara dan upaya, membunyikan semboyan hingga mencari jalan keluar yang salah satunya dengan melakukan tekanan politik. namun, alhasil fenomena yang terjadi anak jalanan masih berkeluyuran dijalanan, premanisme menjadi-jadi, koruptor merajalela, kemiskinan bertambah, utang negarapun tak kalah meningkat, politik yang panas-panas tai ayam tidak jelas, akhlak penerus bangsa yang bobrok, dan program yang dielu-elukan hanya mengambil dan menguras uang rakyat saja.

aduh, pusing pala berbi.....



mungkin negeri ini hanya layak bagi mereka yang hanya menginginkan kebebasan individu tanpa batas.


Immawati Rizkiani

Selasa, 01 September 2015

Ketika tangan itu kosong.
apakah harapan itu akan kosong pula
sekosong harapan dan angan-angan.
Gerak?
apakah indah untuk di pandangi saja?
atau apakah hanya untuk di jadikan pajangan hidup tanpa alasan?
atau apakah akan menjadi jalur dan jalan bagimu jika tak di mulai?
Hingga daun menguning lalu berserakan di atas tanah
dunia akan selalu berputar
namun, ...
apakah perputaran itu menjadi bagian dari cerita hidup ini.
dimanakah cintamu untuk ikatan ini?
dimanakah letak nuranimu yang kau abaikan saat ini?
ataukah hanya akan menunggu sang waktu yang berlalu?
ataukah mengubah sedikit keburukan hingga sang waktu menjamur.
renungkanlah....!
banyak hal yang mampu dilakukan hari ini
matahari masih hangat,
bulanpun masih bersinar
sehingga harapan pun masih sangat mampu terwujud
dia sang waktu menunggumu untuk mengubah zaman yang ambruk
dia sang waktu menantimu untuk memperbaharui pemikiran yang kolot.
lalu ,,, apakah kau akan masih termenung?.
bergeraklah...
hingga gerak itu sendiri lelah melihatmu....

Immawati Rizkiani